Di Antara Seragam dan Rasa
Di antara seragam putih abu-abu,
dan langkah-langkah kecil menuju kelas,
aku menemukan sesuatu
yang tak pernah diajarkan di buku pelajaran—
tentang bagaimana rasanya
menyukai seseorang dalam diam.
Kita bertemu
di lorong yang setiap hari sama,
di antara suara bel dan tawa teman-teman,
di bawah langit pagi
yang mungkin tak pernah sadar
bahwa ada hati yang sedang berbunga.
Aku tak tahu
kapan tepatnya rasa itu tumbuh.
Mungkin saat matamu tak sengaja bertemu mataku,
atau ketika senyummu
membuat hari Senin terasa sedikit lebih ringan.
SMA ternyata bukan hanya
tentang rumus, tugas, dan ujian.
Ia tentang tawa yang tak direncanakan,
tentang sahabat yang datang tanpa diminta,
tentang guru yang kadang membuat kesal
namun kelak justru paling dirindukan.
Dan tentang kamu—
seseorang yang membuat
jam istirahat terasa terlalu singkat,
hari sekolah terasa terlalu indah,
dan masa muda
terasa ingin kuputar lebih lama.
Mungkin suatu hari nanti
seragam ini hanya akan menjadi kenangan,
kelas ini akan dipenuhi wajah-wajah baru,
dan kita akan berjalan
ke arah yang berbeda.
Namun jika kelak aku ditanya
apa yang paling indah dari masa SMA,
aku mungkin tak akan menyebut nilai,
tak akan menyebut piala,
ataupun prestasi.
Aku akan tersenyum
dan mengingat seseorang
yang pernah membuatku jatuh cinta
di masa ketika kita
belum terlalu pandai memahami dunia,
tetapi sudah cukup tahu
bagaimana rasanya bahagia.
Sebab mungkin,
keindahan masa SMA
bukan karena ia akan berlangsung selamanya,
melainkan karena kita tahu
suatu hari semuanya akan berakhir.
Dan justru karena itu,
setiap tawa menjadi berharga,
setiap pertemuan menjadi cerita,
dan setiap rasa yang pernah tumbuh
akan menjadi halaman
yang tak ingin kita hapus
dari buku kehidupan.